Masih Jaman Anarkis

. Rabu, 16 Juli 2008
  • Agregar a Technorati
  • Agregar a Del.icio.us
  • Agregar a DiggIt!
  • Agregar a Yahoo!
  • Agregar a Google
  • Agregar a Meneame
  • Agregar a Furl
  • Agregar a Reddit
  • Agregar a Magnolia
  • Agregar a Blinklist
  • Agregar a Blogmarks

Hari ini saya melihat liputan unjuk rasa terhadap PLN di Banjarmasin, mereka melempari kantor PLN dan melumuri beberapa fasilitas umum dengan cairan hitam (yang saya tidak tahu itu apa). Memang, sejak PLN menerapkan kebijakan pemadaman listrik secara bergilir, pro dan kontra mulai bermunculan di berbagai tempat. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi krisis energi yang melanda dunia ketimbang menyalahkan pemerintah dan PLN secara terus menerus sembari melakukan tindakan anarkis.

Dunia ini sudah berubah, kebutuhan kita terhadap energi juga sudah berubah. Dulu energi berfungsi lebih sebagai pendukung kehidupan, namun sekarang energi mempunyai fungsi hiburan yang membuat permintaan masyarakat akan energi melonjak. Sebut saja televisi, dahulu televisi lebih banyak menayangkan berita dan informasi bermanfaat, namun sekarang televisi seringkali hanya menayangkan sinetron tidak bermutu atau infotainment yang ga bermanfaat, tapi toh kita tetap menontonnya dan membuang energi kita untuk hal tidak penting seperti itu. Bisnis hiburan malam yang kian menjamur juga turut serta dalam menyedot persediaan energi di negeri ini. Peningkatan mobilitas masyarakat, yang mana sekarang sudah tidak jarang lagi ditemui anak muda yang berpergian dengan mengendarai mobil. Bayangkan dengan dulu, dimana yang bisa mengendarai mobil hanya orang tertentu saja, dan bisa dibilang masih sangat jarang anak muda yang berpergian dengan mobil.

Bercermin dengan fakta-fakta di atas saja, sudah dapat kita simpulkan bila krisis energi yang kita hadapi sekarang ini adalah efek dari gaya hidup kita yang sudah terbiasa menggunakan energi secara murah, sehingga begitu candu subsidi atas energi tersebut dikurangi (karena semakin banyak yang disubsidi) kita seolah sakaw dan tidak berdaya menghadapinya. Kita harus realistis, mahasiswa juga harus realistis. Kita kuliah supaya kita menjadi pintar dan menciptakan solusi, bukan hanya mencari keburukan pemerintah dan menyuruh mereka bekerja dengan pandangan cerdas kita yang berada di luar sistem. Kalau memang elemen mahasiswa berpendapat pemerintah tidak becus, kenapa tidak turun langsung membantu masyarakat? Apa mahasiswa tidak mau melakukannya karena tidak digaji untuk itu? Kalau begitu lupakan saja semboyan memperjuangkan rakyat. perjuangan itu jauh lebih dari apa yang mereka lakukan saat ini. Sebaiknya kita bercermin pada diri sendiri, melihat sekeliling kita dan membenamkan tangan kita guna membantu kesusahan yang dialami masyarakat. Indonesia pasti bisa maju jika pihak penguasa dan mahasiswa sama-sama tidak hanya berbicara, tapi bekerja dan berusaha.

Berhentilah anarkis dan mulailah membangun Indonesia, itu juga kalau kalian benar-benar mencintai negeri yang diperjuangkan pejuang-pejuang pendahulu kita.

0 komentar: