Seolah terinspirasi dari kesuksesan AFI dan AFI Junior dulu, stasiun TV RCTI juga membuat kontes Idola Cilik. Format acara tersebut masih seputar kontes menyanyi yang ditujukan untuk membentuk pesertanya menjadi entertainer sejati. Prinsip penilaiannya juga berdasarkan polling sms untuk masing-masing peserta Idola Cilik tersebut.
Pada awalnya, saya pun terkesan dengan upaya stasiun TV Oke tersebut dalam memberikan wadah bagi anak kecil untuk mengembangkan kreativitas dan talenta mereka di bidang tarik suara. Para juri pun seperti sudah diberi pembekalan tentang psikologi anak terlebih dahulu sehingga dalam berkomentar tidak terlalu "sadis".
Namun, dengan berjalannya acara Idola Cilik ini, dan melihat peserta-peserta yang bertahan, terus terang saya agak kecewa. Karena ada beberapa peserta yang tidak memiliki kualitas yang baik tapi dapat tetap bertahan. Kenapa begitu? Saya kira karena alasan "kasihan".
Bukan rahasia lagi, setiap ada kontes reality show seperti ini, seringkali media ikut-ikutan mengupas tentang cerita hidup para peserta kontes tersebut. Ya... memang diantara peserta itu ada yang kurang beruntung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Terus terang, sebagai sesama manusia, saya bersimpati terhadap mereka. Tapi simpati itu tidak mengganggu akal sehat saya untuk dapat menilai siapa yang layak untuk bertahan.
Di luar sana, rakyat berteriak-teriak minta keadilan. Rakyat menuduh pemerintah pilih kasih, tidak profesional dan tebang pilih. Lalu bagaimana dengan rakyat?? Apa mereka tidak tebang pilih? Kalo begitu mengapa dalam kontes Idola Cilik, seringkali saya melihat kekecewaan para juri ketika melihat pesertanya harus keluar. Saya bisa melihat bahwa kekecewaan itu lebih dari sekedar rasa sayang yang terbangun selama acara tersebut berjalan. Saya yakin bahwa diluar itu semua, ada kekecewaan bahwa yang keluar terlebih dahulu adalah peserta yang seharusnya belum keluar.
Weits... jangan salah paham dulu. Saya tidak bermaksud untuk memusuhi orang yang kurang mampu di dalam kontes Idola Cilik. Tapi saya hanya melihat performa dari para pesertanya. Dan saya mengesampingkan masalah kostum, karena kostum itu masalah mode. Saya hanya memperhatikan masalah kualitas suara mereka. Dan ekspresi mereka.
Yang amat saya sayangkan adalah, bahwa karena mereka masih sangat kecil. Seingat saya, orang tua kita yang baik biasanya akan selalu mengajarkan, bahwa usaha dan kemauan keras dalam belajar merupakan kunci utama untuk bisa sukses. Nah, bila di implementasikan pada Idola Cilik, saya tidak dapat membayangkan trauma yang mereka alami. Ketika anak-anak berbakat itu harus menerima kekalahan bukan karena mereka tidak memiliki pencapaian performa yang baik, tapi karena mereka kalah populer. Dan lagi, popularitas ini dibentuk oleh media yang mem-blow-up sisi kesengsaraan dari peserta yang kurang mampu tersebut. Jika hal itu membekas di pikiran mereka, pasti mereka akan berpikir bahwa usaha mereka dikalahkan oleh faktor belas kasihan. Bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya dengan usaha dan semangat kerja keras.
Mungkin anda makin beranggapan bahwa saya memusuhi orang yang kurang mampu. Tapi akan saya kemukakan alasan terbesar saya tidak menyukai hal semacam ini. Di dalam kontes Idola Cilik, penyelenggara akan mendapat banyak keuntungan apabila banyak yang nge-vote dengan mengirim sms ke nomor premium mereka. Jadi, bila strategi belas kasihan mereka berhasil, maka makin banyak keuntungan yang mereka raup. Bukankah Indonesia itu orangnya emosional, mudah disentuh dengan hal-hal sensitif seperti ini. Yang diperlukan adalah packaging yang tepat. Jadi, alasan terbesar saya membenci hal ini adalah karena banyak orang menghabiskan uang mereka hanya untuk mempertahankan segelintir orang yang tidak mampu. Di luar sana masih banyak yang bisa kita bantu. Harga Rp. 2000 per sms itu bisa untuk memberi makan satu orang sebanyak satu kali. Berapa orang kurang mampu yang bisa kita beri "belas kasih" dibanding nge-vote orang yang kurang mampu bernyanyi di kontes Idola Cilik? Pastinya lebih bermanfaat kan?
Oya, perlu saya tegaskan sekali lagi, saya tidak memusuhi peserta yang kurang mampu dan kurang mampu bernyanyi itu. Saya menikmati siapapun yang dapat bernyanyi dengan baik, apapun latar belakangnya.
Ayo bantu orang sekitar kita, jangan cuma bisa protes kenaikan harga BBM dengan mengatas namakan rakyat kecil.
Pada awalnya, saya pun terkesan dengan upaya stasiun TV Oke tersebut dalam memberikan wadah bagi anak kecil untuk mengembangkan kreativitas dan talenta mereka di bidang tarik suara. Para juri pun seperti sudah diberi pembekalan tentang psikologi anak terlebih dahulu sehingga dalam berkomentar tidak terlalu "sadis".
Namun, dengan berjalannya acara Idola Cilik ini, dan melihat peserta-peserta yang bertahan, terus terang saya agak kecewa. Karena ada beberapa peserta yang tidak memiliki kualitas yang baik tapi dapat tetap bertahan. Kenapa begitu? Saya kira karena alasan "kasihan".
Bukan rahasia lagi, setiap ada kontes reality show seperti ini, seringkali media ikut-ikutan mengupas tentang cerita hidup para peserta kontes tersebut. Ya... memang diantara peserta itu ada yang kurang beruntung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Terus terang, sebagai sesama manusia, saya bersimpati terhadap mereka. Tapi simpati itu tidak mengganggu akal sehat saya untuk dapat menilai siapa yang layak untuk bertahan.
Di luar sana, rakyat berteriak-teriak minta keadilan. Rakyat menuduh pemerintah pilih kasih, tidak profesional dan tebang pilih. Lalu bagaimana dengan rakyat?? Apa mereka tidak tebang pilih? Kalo begitu mengapa dalam kontes Idola Cilik, seringkali saya melihat kekecewaan para juri ketika melihat pesertanya harus keluar. Saya bisa melihat bahwa kekecewaan itu lebih dari sekedar rasa sayang yang terbangun selama acara tersebut berjalan. Saya yakin bahwa diluar itu semua, ada kekecewaan bahwa yang keluar terlebih dahulu adalah peserta yang seharusnya belum keluar.
Weits... jangan salah paham dulu. Saya tidak bermaksud untuk memusuhi orang yang kurang mampu di dalam kontes Idola Cilik. Tapi saya hanya melihat performa dari para pesertanya. Dan saya mengesampingkan masalah kostum, karena kostum itu masalah mode. Saya hanya memperhatikan masalah kualitas suara mereka. Dan ekspresi mereka.
Yang amat saya sayangkan adalah, bahwa karena mereka masih sangat kecil. Seingat saya, orang tua kita yang baik biasanya akan selalu mengajarkan, bahwa usaha dan kemauan keras dalam belajar merupakan kunci utama untuk bisa sukses. Nah, bila di implementasikan pada Idola Cilik, saya tidak dapat membayangkan trauma yang mereka alami. Ketika anak-anak berbakat itu harus menerima kekalahan bukan karena mereka tidak memiliki pencapaian performa yang baik, tapi karena mereka kalah populer. Dan lagi, popularitas ini dibentuk oleh media yang mem-blow-up sisi kesengsaraan dari peserta yang kurang mampu tersebut. Jika hal itu membekas di pikiran mereka, pasti mereka akan berpikir bahwa usaha mereka dikalahkan oleh faktor belas kasihan. Bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya dengan usaha dan semangat kerja keras.
Mungkin anda makin beranggapan bahwa saya memusuhi orang yang kurang mampu. Tapi akan saya kemukakan alasan terbesar saya tidak menyukai hal semacam ini. Di dalam kontes Idola Cilik, penyelenggara akan mendapat banyak keuntungan apabila banyak yang nge-vote dengan mengirim sms ke nomor premium mereka. Jadi, bila strategi belas kasihan mereka berhasil, maka makin banyak keuntungan yang mereka raup. Bukankah Indonesia itu orangnya emosional, mudah disentuh dengan hal-hal sensitif seperti ini. Yang diperlukan adalah packaging yang tepat. Jadi, alasan terbesar saya membenci hal ini adalah karena banyak orang menghabiskan uang mereka hanya untuk mempertahankan segelintir orang yang tidak mampu. Di luar sana masih banyak yang bisa kita bantu. Harga Rp. 2000 per sms itu bisa untuk memberi makan satu orang sebanyak satu kali. Berapa orang kurang mampu yang bisa kita beri "belas kasih" dibanding nge-vote orang yang kurang mampu bernyanyi di kontes Idola Cilik? Pastinya lebih bermanfaat kan?
Oya, perlu saya tegaskan sekali lagi, saya tidak memusuhi peserta yang kurang mampu dan kurang mampu bernyanyi itu. Saya menikmati siapapun yang dapat bernyanyi dengan baik, apapun latar belakangnya.
Ayo bantu orang sekitar kita, jangan cuma bisa protes kenaikan harga BBM dengan mengatas namakan rakyat kecil.











0 komentar:
Posting Komentar