Semalam aku ga sengaja lihat acara musikal di Global TV. Di acara itu ada penyanyi Bunga Citra Lestari, Krisdayanti dan ada Faizal Tahir (siapa sih lo?). Agak heran aja, tu orang yang aku sebutin terakhir kok kayanya uda terkenal banget, tapi aku ampe ga tau. Hal aneh lainnya, Bunga Citra Lestari tampil hanya dengan baju yang modelnya biasa, bukan gaun, bukan baju yang desainnya aneh2, hanya sebuah baju atasan biasa dan rok sedikit di bawah lutut, dengan corak yang agak mirip batik (maaf kalo salah, nontonnya di tv kecil jadi ga bisa lihat detail bajunya). Bukannya ga suka BCL tampil gitu, justru aku suka banget, secara aku ngefans ma lagu-lagu yang Bunga Citra Lestari bawakan, sayang jadi ga enak ngliat dia tampil karena suka pake baju yang agak terbuka.
Setelah melewatkan waktu buat nonton acara itu (sambil menahan diri ngelihat orang-orang yang mukanya asing buatku), aku baru dong kalo acara yang kutonton itu acara Anugrah Planet Muzik (APM) yang diadakan di Malaysia.
Kakakku, yang ikut nonton acara tersebut langsung nyeletuk “Pantes kok bajunya Bunga biasa banget...” seolah menjawab tanya yang dari tadi menggelayut di pikiranku :D
The point is... (baru belajar bahasa inggris ni)... Sebetulnya Bunga Citra Lestari tu uda punya suara yang cukup bagus, muka juga cantik, body juga okelah... Semua itu uda bisa bikin orang terkesima setiap dia tampil di panggung. Jadi, kenapa harus pake baju yang terbuka?? Ya emang sih, kulitnya mulus banget, pantes buat dipamerin hehehe...
Masih menyangkut bahasan masa depan generasi muda ni, bukankah di jaman yang (katanya) dikuasai oleh informasi ini, orang akan cenderung menilai sesuatu berdasarkan informasi yang lebih sering ia terima sebagai sebuah kebenaran. Nah, misal seorang Bunga Citra Lestari yang menjadi public figure (ya karena lagunya emang keren-keren – BungaHolic mode: on) yang mana persepsi cantik, keren, seksi, anggun melekat padanya, menggunakan pakaian yang sedikit terbuka. Maka setiap orang (yang belum memiliki konsep sebelumnya) akan menganggap wanita yang cantik, keren, seksi, anggun ya yang penampilannya kaya Bunga Citra Lestari. Tentu saja, bergesernya persepsi orang tersebut bergantung pada tingkat kenge-fan-annya ma Bunga Citra Lestari. Tapi kurang lebih gambarannya begitu. Seperti tren harajuku yang melanda Indonesia (aku ga terlalu masalah, setahuku pakaiannya ga terbuka sih—maaf kalo salah ya) ikut didongkrak dengan keberadaan Ratu dan J-Rock (dan yang lain yang bergaya harajuku).
Well, disini saya tidak ngomentari apalagi nuduh Bunga Citra Lestari membuat tren mode kita jadi suka berbusana lebih terbuka. Namun, yang penting digaris bawahi adalah, public figure memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir para penggemarnya atau orang-orang yang melihat penampilannya. Kalo mereka menggunakan potensi itu untuk mengajak pada kebaikan, maka Indonesia bisa jadi bangsa yang lebih baik ya.
Maaf kalo sedikit nambahin, setiap dibahas mengenai kategori berpakaian yang sopan, seringkali pihak yang kontra dengan pakaian tertutup mengatakan, “dulu juga orang Jawa pada pake kemben, kan malah lebih seksi tuh!” atau “di Bali aja dulunya banyak yang dadanya terbuka!” ato sanggahan-sanggahan lainnya. Setiap mendengar pernyataan seperti itu, saya selalu heran karena biasanya pernyataan seperti itu juga diembel-embeli isu demokrasi. Lho kenapa mereka ga sekalian bandingin pemerintahan kita ma pemerintahan jaman dulu, balik ke kerajaan lagi ya. Bukankah sebagai orang modern kita memilih untuk hidup berdemokrasi, lalu apa kesensualan kita di masa lalu juga harus diimbangi dengan kesensualan fashion yang modern pada saat ini?? Sudah saatnya kita berpikir ke depan, jangan mikirin repotnya sekarang. Berpakaian tertutup itu malah melindungi perempuan, bukannya membatasi perempuan. Tapi kalo perempuannya ga mau dilindungi ya selamanya juga bakal hanya jadi sekedar wacana. Kita orang modern sudah belajar psikologi kan, harusnya kita tanya sama pakar-pakar psikologi dan estetika tentang berpakaian sopan. Mari kita definisikan berpakaian sopan itu seperti apa. Bukannya terus-terus memprotes dengan mengungkit budaya kita. Ambillah yang baik dari sebuah kebudayaan, dan jadikanlah kebudayaan kita lebih baik dengan perubahan yang positif.
Ada usul, atau opini berbeda? Silahkan isi commentnya :D
NB: dah dua postingan saya yang nyaranin berkonsultasi dengan psikolog. Sumpah de, aku bukan psikolog. Hanya saja, dalam menilai suatu masalah bukankah kita harus bertanya pada ahlinya, kalo soal pola pikir manusia kan mereka yang belajar ilmunya. Begitu saja hehehe..











0 komentar:
Posting Komentar