Potret Kecil Bangsa Kita

. Rabu, 30 April 2008
0 komentar

Sore hari ini aku ga sengaja nyasar ke saluran Metro TV. Ternyata lagi ada acara yang cukup menarik, kalo ga salah nama acaranya Snapshot.

Tema yang diambil sore itu adalah tentang pelanggaran masyarakat berupa penerobosan pagar pembatas tengah jalan. Ya.. di kota besar seperti Jakarta sering kita temui jembatan penyeberangan yang melintas di atas jalan yang lebar dan ramai. Di tengah jalan lebar tersebut, sudah dibangun sebuah pagar yang membatasi lajur kiri dan lajur kanan jalan tersebut. Sehingga seharusnya jika pejalan kaki hendak menyeberangi jalan tersebut, mereka harus menggunakan jembatan penyeberangan yang sudah disediakan, demi keamanan mereka sendiri. Kenyataanya, pagar yang sudah disediakan tersebut malah dengan sengaja dirusak, sehingga para pejalan kaki masih sering menerobos dan menyeberang tanpa menggunakan jembatan penyeberangan.

Pelanggaran ini sudah jelas sangatlah membahayakan jiwa pejalan kaki sendiri. Dengan kepadatan arus lalu lintas Jakarta, keberadaan jembatan penyeberangan sudah barang tentu sangat membantu kelancaran lalu lintas karena frekuensi berhentinya kendaraan karena ada pejalan kaki yang menyeberang menjadi lebih sedikit.

Memang sih, bagi pejalan kaki keharusan menggunakan jembatan penyeberangan jalan membuat mereka harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menyeberang jalan karena harus naik turun tangga jembatan penyeberangan tersebut. Namun, apalah artinya hal itu bila ditukar dengan keselamatan jiwa kita sendiri. Sudah barang tentu bila ada kecelakaan disebabkan pejalan kaki tertabrak kendaraan yang melintas jalan tersebut, hal itu akan merugikan kedua belah pihak.

Namun, yang sangat menarik dari acara sore itu adalah tanggapan dari para pejalan kaki yang ditanyai alasan mereka menerobos pagar tersebut. Berikut adalah alasan mereka untuk ngeles :D
Ada sekumpulan (calon) mahasiswi yang bilang:
"biar lebih deket aja"

"gimana ya.. males soalnya..."

"ya.. tadinya sih dah mau lewat jembatan penyeberangan, tapi yang lain pada nerobos, masa mau naik jembatan penyeberangan sendirian" sambil tersipu malu.
Ada juga seorang bapak bersama ketiga anaknya yang masih umur SD dan TK, berkata:
"Waduh.. saya ga ada waktu, keburu-buru soalnya..."
Ada juga ibu-ibu yang berkata gini:
"Saya ini orang kecil, ga tau soal beginian..."
Tambah lagi seorang pemuda yang bilang
"Biar rame aja.."
Asal banget ya jawabnya :D

Semua alasan yang disebutkan di atas itu hanyalah sebagian alasan yang sudah berulang kali disebutkan oleh para penerobos. Intinya.. yang membuat mereka menerobos adalah
  • Malas
  • Ikut-ikutan
  • Ga mau diatur
Begitulah potret kecil bangsa kita. Jangan salahkan mereka yang jadi penguasa kalo bangsa kita seolah kian terpuruk di arus kehidupan dunia.. Perlu kita sadari bahwa pelanggaran yang baru dipaparkan di atas dimungkinkan karena ada pengrusakan terhadap fasilitas umum berupa pagar pembatas. Pengrusakan terhadap fasilitas umum tersebut dilakukan oleh rakyat, yang berarti melukai rakyat lainnya yang mana pajak dari mereka sudah digunakan untuk membangun pagar tersebut.

Tapi apa rakyat yang merusak fasilitas umum tersebut mau dikatai sebagai orang jahat? Sepertinya sih tidak, bahkan mungkin mereka bangga bisa melakukan pengrusakan tersebut, apalagi melihat banyak orang lain yang memanfaatkan "karya" mereka.

Yang perlu kita sadari dari paparan di atas, tanpa sadar mereka yang merusak dan yang menggunakan hasil pengrusakan adalah orang-orang yang mengkorupsi uang rakyat. Ya... karena mereka merusak pagar tersebut untuk keuntungan mereka sendiri, karena alasan malas, ikut-ikutan dan tidak mau diatur. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rakyat kecil pun punya keinginan untuk melanggar aturan dan mengambil hak orang lain. Bedanya dengan para oknum penguasa negeri ini hanyalah masalah kapasitas.

Oknum penguasa negeri dapat mengambil lebih banyak dengan melakukan korupsi, kolusi ataupun nepotisme. Dan rakyat kecil memulai jalan gelap mereka dengan merusak fasilitas umum, melanggar aturan untuk memenuhi tuntutan sifat malas, sikap ikut-ikutan dan tidak mau diatur. Sadarilah, sebesar kita membenci sikap oknum penguasa negeri ini, sebesar itu pulalah kita harus membenci kelemahan kita terhadap sifat-sifat buruk diri kita. Negeri ini masih punya banyak PR untuk dikerjakan. Dan semua elemen di dalamnya punya PRnya sendiri-sendiri. Sudah saatnya kita bangkit dari dalam diri. Kalau kita ga mau merubah diri kita sendiri, apa gunanya meminta orang lain berubah untuk kita. Jangan jadikan perilaku buruk sebagai trend.

Punya opini lain? Bagi-bagi dong di kolom komentar :D

Artis sebagai Trendsetter

. Senin, 21 April 2008
0 komentar

Semalam aku ga sengaja lihat acara musikal di Global TV. Di acara itu ada penyanyi Bunga Citra Lestari, Krisdayanti dan ada Faizal Tahir (siapa sih lo?). Agak heran aja, tu orang yang aku sebutin terakhir kok kayanya uda terkenal banget, tapi aku ampe ga tau. Hal aneh lainnya, Bunga Citra Lestari tampil hanya dengan baju yang modelnya biasa, bukan gaun, bukan baju yang desainnya aneh2, hanya sebuah baju atasan biasa dan rok sedikit di bawah lutut, dengan corak yang agak mirip batik (maaf kalo salah, nontonnya di tv kecil jadi ga bisa lihat detail bajunya). Bukannya ga suka BCL tampil gitu, justru aku suka banget, secara aku ngefans ma lagu-lagu yang Bunga Citra Lestari bawakan, sayang jadi ga enak ngliat dia tampil karena suka pake baju yang agak terbuka.

Setelah melewatkan waktu buat nonton acara itu (sambil menahan diri ngelihat orang-orang yang mukanya asing buatku), aku baru dong kalo acara yang kutonton itu acara Anugrah Planet Muzik (APM) yang diadakan di Malaysia.

Kakakku, yang ikut nonton acara tersebut langsung nyeletuk “Pantes kok bajunya Bunga biasa banget...” seolah menjawab tanya yang dari tadi menggelayut di pikiranku :D

The point is... (baru belajar bahasa inggris ni)... Sebetulnya Bunga Citra Lestari tu uda punya suara yang cukup bagus, muka juga cantik, body juga okelah... Semua itu uda bisa bikin orang terkesima setiap dia tampil di panggung. Jadi, kenapa harus pake baju yang terbuka?? Ya emang sih, kulitnya mulus banget, pantes buat dipamerin hehehe...

Masih menyangkut bahasan masa depan generasi muda ni, bukankah di jaman yang (katanya) dikuasai oleh informasi ini, orang akan cenderung menilai sesuatu berdasarkan informasi yang lebih sering ia terima sebagai sebuah kebenaran. Nah, misal seorang Bunga Citra Lestari yang menjadi public figure (ya karena lagunya emang keren-keren – BungaHolic mode: on) yang mana persepsi cantik, keren, seksi, anggun melekat padanya, menggunakan pakaian yang sedikit terbuka. Maka setiap orang (yang belum memiliki konsep sebelumnya) akan menganggap wanita yang cantik, keren, seksi, anggun ya yang penampilannya kaya Bunga Citra Lestari. Tentu saja, bergesernya persepsi orang tersebut bergantung pada tingkat kenge-fan-annya ma Bunga Citra Lestari. Tapi kurang lebih gambarannya begitu. Seperti tren harajuku yang melanda Indonesia (aku ga terlalu masalah, setahuku pakaiannya ga terbuka sih—maaf kalo salah ya) ikut didongkrak dengan keberadaan Ratu dan J-Rock (dan yang lain yang bergaya harajuku).

Well, disini saya tidak ngomentari apalagi nuduh Bunga Citra Lestari membuat tren mode kita jadi suka berbusana lebih terbuka. Namun, yang penting digaris bawahi adalah, public figure memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir para penggemarnya atau orang-orang yang melihat penampilannya. Kalo mereka menggunakan potensi itu untuk mengajak pada kebaikan, maka Indonesia bisa jadi bangsa yang lebih baik ya.

Maaf kalo sedikit nambahin, setiap dibahas mengenai kategori berpakaian yang sopan, seringkali pihak yang kontra dengan pakaian tertutup mengatakan, dulu juga orang Jawa pada pake kemben, kan malah lebih seksi tuh!” atau di Bali aja dulunya banyak yang dadanya terbuka! ato sanggahan-sanggahan lainnya. Setiap mendengar pernyataan seperti itu, saya selalu heran karena biasanya pernyataan seperti itu juga diembel-embeli isu demokrasi. Lho kenapa mereka ga sekalian bandingin pemerintahan kita ma pemerintahan jaman dulu, balik ke kerajaan lagi ya. Bukankah sebagai orang modern kita memilih untuk hidup berdemokrasi, lalu apa kesensualan kita di masa lalu juga harus diimbangi dengan kesensualan fashion yang modern pada saat ini?? Sudah saatnya kita berpikir ke depan, jangan mikirin repotnya sekarang. Berpakaian tertutup itu malah melindungi perempuan, bukannya membatasi perempuan. Tapi kalo perempuannya ga mau dilindungi ya selamanya juga bakal hanya jadi sekedar wacana. Kita orang modern sudah belajar psikologi kan, harusnya kita tanya sama pakar-pakar psikologi dan estetika tentang berpakaian sopan. Mari kita definisikan berpakaian sopan itu seperti apa. Bukannya terus-terus memprotes dengan mengungkit budaya kita. Ambillah yang baik dari sebuah kebudayaan, dan jadikanlah kebudayaan kita lebih baik dengan perubahan yang positif.

Ada usul, atau opini berbeda? Silahkan isi commentnya :D

NB: dah dua postingan saya yang nyaranin berkonsultasi dengan psikolog. Sumpah de, aku bukan psikolog. Hanya saja, dalam menilai suatu masalah bukankah kita harus bertanya pada ahlinya, kalo soal pola pikir manusia kan mereka yang belajar ilmunya. Begitu saja hehehe..

Heboh Goyangan Dewi Persik

. Rabu, 16 April 2008
0 komentar

Beberapa hari ini, kasus pencekalan Dewi Persik ramai dibicarakan baik di infotaintment maupun media berita lainnya. Berbagai opini publik pun digalang oleh media. Responnya tentu macam-macam, ada yang bilang “biasa saja”, ada yang bilang “terlalu sensual”, ada yang bilang “mbok pemerintah ngurus yang lain aja”.

Tiga ungkapan di atas adalah inti opini yang mewakili beberapa banyaknya opini yang telah dihimpun dan disiarkan di media. Memang, dalam kondisi negeri kita yang rasanya semakin membuat kita “susah bernafas”, isu seperti sensualitas Dewi persik atau keterkaitannya dengan kategori pornoaksi atau pornografi seperti tidak layak untuk diributkan. Namun, hal yang membuatnya layak untuk diperdebatkan adalah wacana “masa depan generasi muda” yang dikaitkan dengan keberadaan goyangan Dewi Persik yang lagi ngetop dengan Goyang Gergajinya.

Masa depan generasi muda. Sebuah wacana yang tak akan pernah selesai dibahas, karena zaman terus berubah, sedang norma-norma dan agama mulai terlihat usang. Tapi, disini saya garis bawahi hal yang sangat penting untuk diingat. Tanpa norma dan agama, kita tidak akan bisa hidup tenang. Karena norma dan agama adalah sesuatu yang dapat kita jadikan acuan ketika kita kehilangan arah di dalam ‘sapuan’ kebudayaan yang terus berevolusi.

Dalam sebuah wawancara dengan Dewi Persik di tayangan Topik Minggu Ini di SCTV (episode 16 April 2008), Dewi Persik menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  • Meminta maaf kepada umaroh, ulama dan semua yang merasa tersakiti oleh tindakan-tindakannya
  • Memaafkan orang-orang yang telah ‘menganiaya’ dan mempersempit rejekinya.
  • Bahwa Dewi Persik hanyalah manusia yang bisa lupa dan khilaf
  • Bahwa Dewi Persik akan tetap menjadi Dewi Persik dan biarlah soal kearifan dan agama cukup menjadi hablum minallah pribadinya serta dunia entertainment berjalan sesuai keinginannya dan kliennya (dalam batas tertentu)

Sekalipun sudah lebih tenang, Dewi Persik tetap kukuh dengan pendiriannya. Dan seolah ingin menegaskan kesekulerisme-annya dalam hal menghibur klien dan penggemarnya. Dewi Persik memberi analogi bahwa apabila kliennya memesan soto, masa ia malah memberi bakso (kalo aku si mau aja, bakso kan lebih mahal hehehe)

Dalam pemberitaan yang mirip dengan kasus Inul beberapa tahun silam, wacana yang mencuat adalah “goyangannya memancing birahi” penontonnya. Kebetulan saya bukan penikmat seni dangdut, saya bukan penggemar Dewi Persik, dan saya tidak menganggap Dewi Persik memiliki sex appeal yang kuat terhadap saya (dikarenakan saya selalu mentertawakan opininya yang membawa-bawa nama Tuhan untuk menjustifikasi tindakannya), ketika melihat cuplikan goyangannya hal yang spontan saya lakukan adalah memindah channel –mending nonton kartun.

Begitu pula pendapat Riri Reza (bener ga ya namanya???) yang mengedepankan bahwa rakyat Indonesia sudah bisa memilah mana yang untuk dewasa mana yang untuk anak kecil. Bapak Adhyaksa (Menpora) mengedepankan bahwa media yang membuat goyangan Dewi Persik seolah semakin sensual (praduga tak bersalah karena beliau hanya melihatnya melalui tayangan layar kaca) sembari menasihati Dewi Persik untuk merubah gayanya.

Saya pribadi belum bisa merasakan bahwa goyangan yang saya lihat dari seorang Dewi Persik itu memancing birahi (karena saya pria normal, namun ga terpancing), namun, ga menutup kemungkinan karena selama saya bergaul dengan teman-teman kuliah saya, respon mereka ketika ada cewek cantik lewat (apalagi kalo bodinya oke n pakaiannya agak gimana gitu) cukup bervariasi. Berikut adalah respon-respon mereka:

  • Terbelalak tanpa berkedip hingga tuh cewek hilang dari pandangannya
  • Menatapnya sambil menerawang dan menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan.
  • Terbelalak, mulut sedikit terbuka dan setelah si cewek ga kelihatan dia memandang ke bawah (ga perlu dijelasin lagi kan..)
  • Langsung berteriak dalam tempo cepat “cwew..cwew..cwew..!!” (anak angkatanku pasti paham ini ulah siapa hehehe... )

Intinya, kita orang kota yang ribut dan cuma lihat tayangannya di layar kaca rasanya kurang pantas untuk berkomentar dengan terburu-buru dan mengedepankan intelektualitas kita dalam memilah tayangan-tayangan yang kita tonton dan menggeneralisasinya untuk seluruh rakyat Indonesia. Dan tidak adil pula untuk mengesampingkan umat beragama padahal Indonesia menempatkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi sila pertama. Rasanya akan lebih baik juga bila hal ini dibahas dengan para pakar psikologi yang dengan dedikasi tinggi sudah mengamati respon manusia terhadap rangsangan visual sejenis goyang gergaji Dewi Persik beserta teman-temannya. Juga kepada pihak kepolisian yang mencatat berapa banyak terjadinya kejahatan seksual di Indonesia. Senior2 yang kebetulan sedang memegang kekuasaan dan merasa peduli dengan masa depan generasi muda pastinya memiliki pengalaman lebih dari kita yang masih muda. Mereka juga adalah saksi hidup dari perkembangan jenis dan kategori visi anak muda jaman sekarang.

Ga selamanya yang muda itu salah, namun ga berarti pengalaman senior kita itu ga ada harganya. Kita dapat mengambil contoh dengan gagalnya penguasa dalam menyikapi Inul dan memunculkan banyak Inil-Inil yang lain kemudian. Sama seperti lolosnya koruptor yang memancing lahirnya koruptor-koruptor baru di Indonesia.