Tema yang diambil sore itu adalah tentang pelanggaran masyarakat berupa penerobosan pagar pembatas tengah jalan. Ya.. di kota besar seperti Jakarta sering kita temui jembatan penyeberangan yang melintas di atas jalan yang lebar dan ramai. Di tengah jalan lebar tersebut, sudah dibangun sebuah pagar yang membatasi lajur kiri dan lajur kanan jalan tersebut. Sehingga seharusnya jika pejalan kaki hendak menyeberangi jalan tersebut, mereka harus menggunakan jembatan penyeberangan yang sudah disediakan, demi keamanan mereka sendiri. Kenyataanya, pagar yang sudah disediakan tersebut malah dengan sengaja dirusak, sehingga para pejalan kaki masih sering menerobos dan menyeberang tanpa menggunakan jembatan penyeberangan.
Pelanggaran ini sudah jelas sangatlah membahayakan jiwa pejalan kaki sendiri. Dengan kepadatan arus lalu lintas Jakarta, keberadaan jembatan penyeberangan sudah barang tentu sangat membantu kelancaran lalu lintas karena frekuensi berhentinya kendaraan karena ada pejalan kaki yang menyeberang menjadi lebih sedikit.
Memang sih, bagi pejalan kaki keharusan menggunakan jembatan penyeberangan jalan membuat mereka harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menyeberang jalan karena harus naik turun tangga jembatan penyeberangan tersebut. Namun, apalah artinya hal itu bila ditukar dengan keselamatan jiwa kita sendiri. Sudah barang tentu bila ada kecelakaan disebabkan pejalan kaki tertabrak kendaraan yang melintas jalan tersebut, hal itu akan merugikan kedua belah pihak.
Namun, yang sangat menarik dari acara sore itu adalah tanggapan dari para pejalan kaki yang ditanyai alasan mereka menerobos pagar tersebut. Berikut adalah alasan mereka untuk ngeles :D
Ada sekumpulan (calon) mahasiswi yang bilang:
"biar lebih deket aja"Ada juga seorang bapak bersama ketiga anaknya yang masih umur SD dan TK, berkata:
"gimana ya.. males soalnya..."
"ya.. tadinya sih dah mau lewat jembatan penyeberangan, tapi yang lain pada nerobos, masa mau naik jembatan penyeberangan sendirian" sambil tersipu malu.
"Waduh.. saya ga ada waktu, keburu-buru soalnya..."Ada juga ibu-ibu yang berkata gini:
"Saya ini orang kecil, ga tau soal beginian..."Tambah lagi seorang pemuda yang bilang
"Biar rame aja.."Asal banget ya jawabnya :D
Semua alasan yang disebutkan di atas itu hanyalah sebagian alasan yang sudah berulang kali disebutkan oleh para penerobos. Intinya.. yang membuat mereka menerobos adalah
- Malas
- Ikut-ikutan
- Ga mau diatur
Tapi apa rakyat yang merusak fasilitas umum tersebut mau dikatai sebagai orang jahat? Sepertinya sih tidak, bahkan mungkin mereka bangga bisa melakukan pengrusakan tersebut, apalagi melihat banyak orang lain yang memanfaatkan "karya" mereka.
Yang perlu kita sadari dari paparan di atas, tanpa sadar mereka yang merusak dan yang menggunakan hasil pengrusakan adalah orang-orang yang mengkorupsi uang rakyat. Ya... karena mereka merusak pagar tersebut untuk keuntungan mereka sendiri, karena alasan malas, ikut-ikutan dan tidak mau diatur. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rakyat kecil pun punya keinginan untuk melanggar aturan dan mengambil hak orang lain. Bedanya dengan para oknum penguasa negeri ini hanyalah masalah kapasitas.
Oknum penguasa negeri dapat mengambil lebih banyak dengan melakukan korupsi, kolusi ataupun nepotisme. Dan rakyat kecil memulai jalan gelap mereka dengan merusak fasilitas umum, melanggar aturan untuk memenuhi tuntutan sifat malas, sikap ikut-ikutan dan tidak mau diatur. Sadarilah, sebesar kita membenci sikap oknum penguasa negeri ini, sebesar itu pulalah kita harus membenci kelemahan kita terhadap sifat-sifat buruk diri kita. Negeri ini masih punya banyak PR untuk dikerjakan. Dan semua elemen di dalamnya punya PRnya sendiri-sendiri. Sudah saatnya kita bangkit dari dalam diri. Kalau kita ga mau merubah diri kita sendiri, apa gunanya meminta orang lain berubah untuk kita. Jangan jadikan perilaku buruk sebagai trend.
Punya opini lain? Bagi-bagi dong di kolom komentar :D