Konversi Minyak Tanah ke Gas, Antara Dilema dan Target

. Jumat, 26 Desember 2008
0 komentar

Dilema konversi minyak tanah ke gas elpiji untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat atas bahan bakar rumah tangga terus bergulir dari waktu ke waktu sejak dijalankannya program konversi minyak tanah ke gas tersebut.

Mengganti kebiasaan menggunakan minyak tanah menjadi gas berefek signifikan pada beberapa masyarakat, ketakutan bila tabung gas meledak masih terus menghantui benak mereka. Hal ini ditunjang dengan kualitas kompor gratis yang dibagikan dapat dikatakan kurang baik, sehingga dari segi 'memenangkan kepercayaan masyarakat', langkah yang ditempuh dirasa kurang tepat.

Iklan layanan di masyarakat juga tidak kalah menyesatkan, karena melakukan perhitungan kebvutuhan 4 tabung gas elpiji 3kg sebulan dengan harga @12.750, sehingga ditotal sebulan hanya dibutuhkan dana sebesar Rp.51000. Padahal dalam kenyataannya, harga gas elpiji 3 kg saja berkisar antara 14-15ribu rupiah. Jadi iklan layanan tersebut terasa begitu menyesatkan.

Saya tidak sedang mengajak menyalahkan siapa-siapa, ada benarnya juga langkah konversi yang ditempuh guna mengurangi beban subsidi untuk minyak tanah. Akan tetapi, sangatlah diperlukan peran serta pengambil kebijakan beserta instansi lain yang terkait untuk berusaha lebih keras lagi guna mensukseskan program konversi minyak tanah ke gas elpiji ini :D

Kekayaan Aburizal Bakrie Turun 90%, Bagaimana Nasib Korban Lapindo?

. Jumat, 12 Desember 2008
0 komentar

Kekayaan Aburizal Bakrie merosot 90%, begitulah berita yang saya baca malam ini. Langsung terbayang di pikiran saya akan nasib dari korban Lapindo yang masih menunggu ganti rugi yang dijanjikan akan mereka dapatkan. Jika ketika kekayaan Bakrie masih sehat saja pembayarannya dilakukan dengan sistem mencicil, bagaimana sekarang ya, dimana keadaan finansialnya sedang dalam 'sakit'.

Kemerosotan ini ditengarai akibat krisis finansial global yang berujung pada penurunan nilai saham PT Bumi Resource hingga ke angkat Rp.930 (sebelumnya Rp.8750). Pihak Bakrie mengatakan bahwa kekayaan keluarganya saat ini berada di bawah 10%.

Semoga saja pemberitaan ini bukanlah sebuah propaganda untuk menunda atau menghilangkan perjanjian ganti rugi dari Bakrie terhadap korban Lapindo. Dan kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air, mari kita turut berdoa (karena doa adalah usaha minimal kita) agar masalah yang dihadapi oleh perusahaan keluarga Bakrie bisa segera teratasi. Walau bagaimanapun, dalam perusahaan tersebut juga terdapat saudara sebangsa kita yang mengais pendapatan dengan bekerja di sana.

Mari kita menjadi bagian dari solusi untuk bangsa kita, bukan menjadi bagian dari masalah :)


Korban Lumpur Lapindo dan Bakrie

. Selasa, 02 Desember 2008
0 komentar

Permasalahan korban lumpur lapindo terasa semakin berkepanjangan saja. Persetujuan demi persetujuan sudah dibuat, tapi kenapa 2 tahun ini penggantian terkesan tersendat-sendat, sekalipun alasan krisis di perusahaan induk Grup Bakrie menjadi alasan. Hal ini mencuatkan banyak opini di masyarakat, apalagi dengan diumumkannya kekayaan Bakrie yang cukup fantastis beberapa waktu lalu.

Kita semua tahu, bahwa bencana lumpur lapindo tentu tidak lepas dari ketentuan dan takdir Tuhan. Akan tetapi, bila pihak Bakrie / Lapindo sudah menyetujui penggantian kepada sejumlah korban, janganlah lagi ditunda-tunda. Para korban lumpur lapindo menunggu uang yang dijanji-janjikan, jangan sampai mereka menjadi anarkis karena merasa kecewa. Mereka bergantung pada Keputusan Presiden 14/2007 yang memberi sedikit harapan.

Berdasarkan negosiasi ulang Selasa kemarin (2/12/08), pihak Lapindo kini menyetujui pencicilan pembayaran ganti rugi sebanyak Rp. 20 juta perbulan, ditambah 5 juta perbulan untuk biaya rumah. Semoga janji ini bisa mereka tepati, agar para korban juga segera bisa membuktikan bahwa dirinya masih tetap mau berusaha bertahan hidup dengan etos kerja yang tinggi membangun kembali hidup mereka di Indonesia :)

Masih Jaman Anarkis

. Rabu, 16 Juli 2008
0 komentar

Hari ini saya melihat liputan unjuk rasa terhadap PLN di Banjarmasin, mereka melempari kantor PLN dan melumuri beberapa fasilitas umum dengan cairan hitam (yang saya tidak tahu itu apa). Memang, sejak PLN menerapkan kebijakan pemadaman listrik secara bergilir, pro dan kontra mulai bermunculan di berbagai tempat. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi krisis energi yang melanda dunia ketimbang menyalahkan pemerintah dan PLN secara terus menerus sembari melakukan tindakan anarkis.

Dunia ini sudah berubah, kebutuhan kita terhadap energi juga sudah berubah. Dulu energi berfungsi lebih sebagai pendukung kehidupan, namun sekarang energi mempunyai fungsi hiburan yang membuat permintaan masyarakat akan energi melonjak. Sebut saja televisi, dahulu televisi lebih banyak menayangkan berita dan informasi bermanfaat, namun sekarang televisi seringkali hanya menayangkan sinetron tidak bermutu atau infotainment yang ga bermanfaat, tapi toh kita tetap menontonnya dan membuang energi kita untuk hal tidak penting seperti itu. Bisnis hiburan malam yang kian menjamur juga turut serta dalam menyedot persediaan energi di negeri ini. Peningkatan mobilitas masyarakat, yang mana sekarang sudah tidak jarang lagi ditemui anak muda yang berpergian dengan mengendarai mobil. Bayangkan dengan dulu, dimana yang bisa mengendarai mobil hanya orang tertentu saja, dan bisa dibilang masih sangat jarang anak muda yang berpergian dengan mobil.

Bercermin dengan fakta-fakta di atas saja, sudah dapat kita simpulkan bila krisis energi yang kita hadapi sekarang ini adalah efek dari gaya hidup kita yang sudah terbiasa menggunakan energi secara murah, sehingga begitu candu subsidi atas energi tersebut dikurangi (karena semakin banyak yang disubsidi) kita seolah sakaw dan tidak berdaya menghadapinya. Kita harus realistis, mahasiswa juga harus realistis. Kita kuliah supaya kita menjadi pintar dan menciptakan solusi, bukan hanya mencari keburukan pemerintah dan menyuruh mereka bekerja dengan pandangan cerdas kita yang berada di luar sistem. Kalau memang elemen mahasiswa berpendapat pemerintah tidak becus, kenapa tidak turun langsung membantu masyarakat? Apa mahasiswa tidak mau melakukannya karena tidak digaji untuk itu? Kalau begitu lupakan saja semboyan memperjuangkan rakyat. perjuangan itu jauh lebih dari apa yang mereka lakukan saat ini. Sebaiknya kita bercermin pada diri sendiri, melihat sekeliling kita dan membenamkan tangan kita guna membantu kesusahan yang dialami masyarakat. Indonesia pasti bisa maju jika pihak penguasa dan mahasiswa sama-sama tidak hanya berbicara, tapi bekerja dan berusaha.

Berhentilah anarkis dan mulailah membangun Indonesia, itu juga kalau kalian benar-benar mencintai negeri yang diperjuangkan pejuang-pejuang pendahulu kita.

Citra Buruk Kader Golkar

. Minggu, 29 Juni 2008
0 komentar

Menjelang Pemilu dan Pilpres 2009. Banyak tokoh dan partai politik sedang sibuk mengurusi citra / image mereka di mata masyarakat. Tidak terkecuali partai Golkar, partai yang berlambangakan pohon beringin ini mulai mengkhawatirkan citra buruk yang mungkin akan mengurangi pendapatan suara untuk partai Golkar di Pemilu 2009 nanti.

Citra buruk Golkar ini kemungkinan disebabkan oleh korupsi beberapa kader Golkar yang mencuat ke media. Badan penelitian dan pengembangan internal Golkar mensinyalir bahwa hal ini akan menurunkan perolehan suara di Pemilu 2009 nanti.

Hal lain yang membuat citra Golkar melemah adalah masalah ideologi yang tidak jelas. Sebetulnya hal itu dapat diatasi jika mereka tetap fokus pada filosofi dasar dari lambang partai mereka. Bukankah lambang tersebut sudah mengandung filosofi yang bagus, tinggal menerapkannya yang butuh penyesuaian dan komitmen dalam membangun bangsa.

Sebagai rakyat biasa, saya sangat berharap bahwa partai yang memenangkan Pemilu 2009 nanti bisa memajukan bangsa Indonesia.

Idola Cilik RCTI - Kompetisi Popularitas di Usia Dini

. Jumat, 23 Mei 2008
0 komentar

Seolah terinspirasi dari kesuksesan AFI dan AFI Junior dulu, stasiun TV RCTI juga membuat kontes Idola Cilik. Format acara tersebut masih seputar kontes menyanyi yang ditujukan untuk membentuk pesertanya menjadi entertainer sejati. Prinsip penilaiannya juga berdasarkan polling sms untuk masing-masing peserta Idola Cilik tersebut.

Pada awalnya, saya pun terkesan dengan upaya stasiun TV Oke tersebut dalam memberikan wadah bagi anak kecil untuk mengembangkan kreativitas dan talenta mereka di bidang tarik suara. Para juri pun seperti sudah diberi pembekalan tentang psikologi anak terlebih dahulu sehingga dalam berkomentar tidak terlalu "sadis".

Namun, dengan berjalannya acara Idola Cilik ini, dan melihat peserta-peserta yang bertahan, terus terang saya agak kecewa. Karena ada beberapa peserta yang tidak memiliki kualitas yang baik tapi dapat tetap bertahan. Kenapa begitu? Saya kira karena alasan "kasihan".

Bukan rahasia lagi, setiap ada kontes reality show seperti ini, seringkali media ikut-ikutan mengupas tentang cerita hidup para peserta kontes tersebut. Ya... memang diantara peserta itu ada yang kurang beruntung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Terus terang, sebagai sesama manusia, saya bersimpati terhadap mereka. Tapi simpati itu tidak mengganggu akal sehat saya untuk dapat menilai siapa yang layak untuk bertahan.

Di luar sana, rakyat berteriak-teriak minta keadilan. Rakyat menuduh pemerintah pilih kasih, tidak profesional dan tebang pilih. Lalu bagaimana dengan rakyat?? Apa mereka tidak tebang pilih? Kalo begitu mengapa dalam kontes Idola Cilik, seringkali saya melihat kekecewaan para juri ketika melihat pesertanya harus keluar. Saya bisa melihat bahwa kekecewaan itu lebih dari sekedar rasa sayang yang terbangun selama acara tersebut berjalan. Saya yakin bahwa diluar itu semua, ada kekecewaan bahwa yang keluar terlebih dahulu adalah peserta yang seharusnya belum keluar.

Weits... jangan salah paham dulu. Saya tidak bermaksud untuk memusuhi orang yang kurang mampu di dalam kontes Idola Cilik. Tapi saya hanya melihat performa dari para pesertanya. Dan saya mengesampingkan masalah kostum, karena kostum itu masalah mode. Saya hanya memperhatikan masalah kualitas suara mereka. Dan ekspresi mereka.

Yang amat saya sayangkan adalah, bahwa karena mereka masih sangat kecil. Seingat saya, orang tua kita yang baik biasanya akan selalu mengajarkan, bahwa usaha dan kemauan keras dalam belajar merupakan kunci utama untuk bisa sukses. Nah, bila di implementasikan pada Idola Cilik, saya tidak dapat membayangkan trauma yang mereka alami. Ketika anak-anak berbakat itu harus menerima kekalahan bukan karena mereka tidak memiliki pencapaian performa yang baik, tapi karena mereka kalah populer. Dan lagi, popularitas ini dibentuk oleh media yang mem-blow-up sisi kesengsaraan dari peserta yang kurang mampu tersebut. Jika hal itu membekas di pikiran mereka, pasti mereka akan berpikir bahwa usaha mereka dikalahkan oleh faktor belas kasihan. Bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya dengan usaha dan semangat kerja keras.

Mungkin anda makin beranggapan bahwa saya memusuhi orang yang kurang mampu. Tapi akan saya kemukakan alasan terbesar saya tidak menyukai hal semacam ini. Di dalam kontes Idola Cilik, penyelenggara akan mendapat banyak keuntungan apabila banyak yang nge-vote dengan mengirim sms ke nomor premium mereka. Jadi, bila strategi belas kasihan mereka berhasil, maka makin banyak keuntungan yang mereka raup. Bukankah Indonesia itu orangnya emosional, mudah disentuh dengan hal-hal sensitif seperti ini. Yang diperlukan adalah packaging yang tepat. Jadi, alasan terbesar saya membenci hal ini adalah karena banyak orang menghabiskan uang mereka hanya untuk mempertahankan segelintir orang yang tidak mampu. Di luar sana masih banyak yang bisa kita bantu. Harga Rp. 2000 per sms itu bisa untuk memberi makan satu orang sebanyak satu kali. Berapa orang kurang mampu yang bisa kita beri "belas kasih" dibanding nge-vote orang yang kurang mampu bernyanyi di kontes Idola Cilik? Pastinya lebih bermanfaat kan?

Oya, perlu saya tegaskan sekali lagi, saya tidak memusuhi peserta yang kurang mampu dan kurang mampu bernyanyi itu. Saya menikmati siapapun yang dapat bernyanyi dengan baik, apapun latar belakangnya.
Ayo bantu orang sekitar kita, jangan cuma bisa protes kenaikan harga BBM dengan mengatas namakan rakyat kecil.

Harga BBM Terbaru - 24 Mei 2008

.
0 komentar

Malam ini pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) di Indonesia untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia.

Sesuai dengan PP no 55 th 2005 yang sudah diubah dengan PP no 9 th 2006, maka Pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak per 24 Mei 2008 pkl 0.00.

Berikut rincian harga terbaru untuk varian Bahan Bakar Minyak.
  • Minyak Tanah Rp. 2500,-
  • Premium Rp. 6000,-
  • Solar Rp. 5500,-

Kenaikan ini menunjukkan bahwa harga premium naik melebihi 30% dari harga awalnya pada Rp. 4550,-. Ya.. memang sih naiknya tidak seperti pada waktu terakhir naik yang bener-bener memberi financial shock buat saya.
Semoga keputusan pemerintah menaikkan harga BBM ini tidak membuat rakyat kehilangan keadilan dari diri mereka. Saya hanya berharap tidak ada tindakan anarkis dalam menyambut kenaikan harga BBM ini. Semakin anarkis, semakin banyak yang dirusak, semakin rugi bangsa kita. Ayo kita benahi bangsa kita... Artis-artis juga bantu dong menciptakan trend hidup hemat ;) Dan jangan lupa untuk menggalakkan program kaset gratis :D

Album Baru Gratis dari Naif - Alternatif Memerangi Pembajakan

. Jumat, 09 Mei 2008
2 komentar

Kalo kamu penggermar band Naif, kamu pasti akan senang dengan kabar ini. Band yang baru merilis album barunya yang bertajuk Let's Go ini memasarkan album baru tersebut secara gratis. Salut deh, manuver pemasaran yang cukup keren di bidang musik untuk band sekelas Naif.

Alasan utama dari pihak band Naif menggratiskan penjualan album mereka tak lain adalah guna membuat pembajak kaset BT. Mereka sudah melakukan hitung-hitungan ekonomi terlebih dahulu. Karena royalti dari penjualan kaset mereka apabila mereka melakukan kontrak dengan pihak Label hanyalah Rp.1000,- dan masih harus dibagi diantara keempat personel band Naif. Kalopun terjual 60.000 keping, mereka hanya akan dapat pemasukan sebesar Rp.60.000.000,-. Itupun harus menunggu agak lama untuk mencapai angka penjualan sebanyak itu. Band Naif lebih mengharapkan pemasukan dari honor manggung mereka. Sekali manggung dengan durasi 45 menit mereka dapat 60 juta rupiah, ga beda dengan hasil penjualan 60.000 keping kaset mereka. Di bulan Mei ini, kamu bisa dapetin album Let's Go dari Naif cukup dengan membeli satu eksemplar majalah waralaba. Mau tahu judul majalahnya? Baca artikel ini sampe habis ya :D

Kasus pembajakan kaset sudah sangat merajalela di Indonesia. Di Jogja, tempatku menuntut ilmu ini, hasil bajakan ini dengan mudah kita temui di pinggir jalan. Bahkan bagi mereka yang berkantong cekak, mereka cukup menyewanya di rental dan meng-copy ulang di komputer mereka masing-masing... Yah... mbajak hasil bajakan mungkin ga terlalu gimana gitu rasanya...

Kalo pendapat pribadiku sih, khusus untuk band Indonesia lho, kalo kaset mereka dibajak terutama ke media MP3, hal itu justru akan meningkatkan pamor mereka (ya.. kalo lagunya bagus sih). Karena dalam media MP3, penyebarannya akan lebih mudah, serta gampang dibawa-bawa menggunakan MP3 player. Bayangkan bagaimana musik mereka memasuki pikiran para pendengarnya, dan mereka ga perlu bayar biaya promosi (oleh pembajak) album mereka. Semakin tenar, semakin banyak pemasukan mereka dari banyaknya permintaan kepada mereka untuk manggung disana-sini. Sekali lagi, itu kalo lagunya bagus... Bagi band-band yang lagunya ga oke atau STD (gaya juri Indonesian Idol), ya cuma bisa gigit jari lihat hasil karya mereka dibajak...

Btw, saya sebenernya ga setuju sama pembajakan... Tapi gimana ya, aku butuh banget nonton Anime, jadi ya.. cm dari kaset bajakan aku bisa nonton serial anime kesukaanku. Soalnya belum ada yang nge-lisensi di Indonesia. Lagian, para penerjemah serial Anime di Indonesia bener-bener perlu pembenahan ni untuk bisa nerjemahin anime dengan benar. Coba aja kalian nonton Naruto yang di sulih suara (dubbing) ke bahasa Indonesia , parah banget... Bikin ill-feel liatnya...

Oya.. buat yang pengen dapetin album baru gratis dari band Naif. Cukup dengan membeli satu eksemplar majalah Rolling Stones edisi bulan Mei. So.. go get it guys!

[Kompas]

Boikot Tayangan Tak Mendidik

. Kamis, 08 Mei 2008
1 komentar

Para penggemar sinetron lepas magrib di RCTI pasti menyadari bahwa serial RCTI belum lama ini diisi dengan beberapa serial sinetron baru. Sebut saja Gara-Gara Cinta, Cerita SMA (kalo ga salah) dan Munajah Cinta yang menggantikan Namaku Mentari dan Jelita. Sinetron Cahaya sendiri harus rela "digusur" untuk tayang lebih malam, entah karena rating-nya yang mulai turun atau karena dianggap tayang malam pun tetap akan banyak yang nonton.

Penggantian acara ini entah mengapa seolah menjawab ajakan Kak Seto untuk memboikot tayangan tidak mendidik. Menurut hasil penelitian Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), tayangan pendidikan hanya menempati porsi sebesar 0.07% dari seluruh jam tayang. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan. Apalagi, Indonesia memiliki stasiun TV yang bernama Televisi Pendidikan Indonesia, yang memang awalnya banyak memberikan tayangan-tayangan pendidikan, namun dalam perkembangannya, paradigma pendidikannya sedikit tergeser dengan arus acara hiburan.

Mungkin anda belum tahu, tapi sebagai bangsa Indonesia, kita boleh berbangga dengan kiprah dunia pertelevisian kita. Jika anda sering menengok ke stasiun tv negara lain (jangan bandingkan dengan Amerika, Australia, China n negara yang sudah sangat lebih maju dari Indonesia ya), mungkin anda akan berkomentar
"Kok studionya jelek ya..!"

"Kok wardrobe-nya kusam gitu..!"

atau

"Kok gambarnya ga jernih sih"

Jadi... rasanya sayang kalo fasilitas siaran televisi kita yang sedemikian bagusnya malah dipenuhi oleh tayangan yang ga mendidik. Rasanya lebih baik bila kualitas gambar siaran TV kita tetep jelek tapi acaranya berkualitas seperti dulu.

Lalu sebagai masyarakat, apa yang dapat kita perbuat?

Ya... Kendalanya sebetulnya dengan kebiasaan kita. Kalo kita disuguhi tayangan ga mendidik tapi tetep kita tonton, ya akhirnya rating acara tersebut tetep tinggi.

Kita bisa mengambil kasus melejitnya acara talkshow Empat Mata yang dipandu oleh Tukul Arwana atau acara komedi situasi Extravaganza. Hal itu menandai bahwa sebagian masyarakat mulai bosan dengan tayangan sinetron televisi kita *yang melulu menjual air mata dan kekejaman*. Jadi, sebagai masyarakat, kita memiliki hak pilih terhadap tayangan yang disuguhkan oleh stasiun televisi kita. Intinya, jangan lagi tonton tayangan televisi yang ga mendidik. Dengan begitu ratingnya bakal turun *emang cara nentuin rating dari mana ya??* dan buru-buru diganti dengan acara lain. Aku rindu banget ma tayangan TV dulu. Seminggu sekali aku menunggu tayangan McGyver yang menginspirasi kita betapa keren dan bermanfaatnya menjadi orang yang menguasai ilmu sains.

Punya opini lain?? Bagi-bagi dong di kolom komentar ;)

Pidato Presiden SBY - Bersama Hadapi Krisis Indonesia

. Kamis, 01 Mei 2008
0 komentar

Semalam pas begadang ngerjain tugas, aku baru inget kalo AnTV lagi nayangin Star Wars yang seri A New Hope kalo ga salah. Pas aku buru-buru nyalain TV (waktu itu jam 11), ternyata yang muncul adalah Bapak Presiden SBY yang sedang melakukan pidato. Backgroundnya tempat Presiden SBY pidato waktu itu seperti menggunakan bluescreen, katanya si tempat pidato Presiden SBY itu di luar negeri (harap dikonfirmasi lebih lanjut kebenarannya ^_^ ).

Dalam pidato tersebut, Pak SBY mengajak rakyat Indonesia untuk bersama-sama memahami masalah yang sedang dihadapi Indonesia saat ini. Melambungnya harga minyak dunia adalah sesuatu yang berada diluar kendali kita, belum lagi masalah pangan dunia, dan krisis energi yang melanda Indonesia.

Mungkin banyak pembaca blog ini yang berpikir (nggaya banget kaya ada aja yang baca blog ini "-_- )
"Indonesia katanya penghasil minyak, kok kesusahan karena persoalan minyak dunia"
Ya.. karena penduduk kita semakin banyak, dan pengguna hasil olahan minyak mentah (seperti bensin dan minyak tanah) semakin meningkat. Bayangkan saja, dulu yang namanya orang punya motor di Indonesia tu bisa dibilang hebat. Tapi sekarang pengguna motor sudah terdiri dari berbagai lapisan sosial dan usia. Mulai dari motor cina yang murah meriah sampe motor Jepang yang walaupun mahal tapi tetep laris manis (contohnya, motor terbaru dari Honda yang bernama CS1 aja dah ada yang inden 300 lbh). Belum lagi mobil-mobil yang udah jadi alat gaul kawula muda... Kadang sampe geleng-geleng (baca: ngiler) lihat banyaknya anak muda jaman sekarang yang wira-wiri pake mobil, kuat banget biayain pengeluaran untuk ngrawat mobil. Jadi ya begitulah, pengguna BBM dan minyak tanah semakin banyak, dan tiap liter yang kita gunakan menyedot subsidi dari APBN. Padahal seringkali kita suka cari-cari alasan keluar rumah hanya karena ga betah dirumah tanpa tujuan yang jelas. Ato kita merasa kuat beli bensin jadi agak semena-mena dalam penggunaannya. Padahal semakin banyak kita pakai semakin banyak kita mengambil anggaran negara kita. Masih banyak yang perlu subsidi di negara kita seperti di bidang kesehatan dan pendidikan.

Buat yang punya pikiran begini
"Lho kita kan negara agraris, kok kekurangan pangan?"
Waduh.. pandangan ini dah ketinggalan jaman... Sekarang banyak lahan pertanian jadi lahan pemukiman. Selain karena penduduk Indonesia yang kian bertambah, banyak pula orang yang tidak berminat menjadi petani, karena jadi petani itu susah, duitnya ga banyak, makan aja susah...

Anggapan itu uda terlanjur terbentuk di kalangan petani. Banyak orang yang merindukan swasembada pangan di Indonesia. Ya.. kalo mau gitu lagi, kita semua harus berusaha dong. Jangan cuma bermimpi. Bayangin aja, kalo beras mahal, rakyat teriak-teriak minta harga beras turun. Pemerintah impor beras untuk nurunin harga, petani ga jadi panen harga...

Lalu dimana posisi kita sebagai warga negara RI yang tidak jadi bagian dari pemerintah dan bukanlah petani yang tinggal di desa?? Ya... maka dari itu, kita harus lebih peduli dengan nasib petani, bukan hanya dengan kembali teriak-teriak ke pemerintah minta mereka perhatiin petani... Lakukan dengan tangan kita sendiri dong, apa yang bisa kita lakukan untuk para petani? Penting untuk kita pikirkan ;)

Hal lain yang disinggung adalah masalah krisis energi. Banyak orang bilang.
"Indonesia kan punya potensi energi terbarukan yang belum dieksplor"
Betul banget itu, kita punya panas bumi, tenaga air dan energi surya. Tapi perlu diingat. Teknologi energi terbarukan itu memerlukan investasi awal yang besar. Contohnya energi surya, untuk bisa balik modal kira-kira butuh waktu 25 tahun, itu juga kalo ga terjadi kerusakan dalam jangka waktu tersebut.

Untuk menggunakan energi air laut, kita harus bergelut dengan masalah korosi, begitu juga bila kita hendak menggunakan energi angin di wilayah pesisir kita.

Mau pake nuklir, waduh.... rakyatnya dah kadung phobia ma nuklir... Demo disana sini. Sekali lagi, apa yang bisa kita lakukan? Satu hal yang bisa lakukan untuk mengawalinya. Yaitu, berhemat. Karena tarif listrik masih bersubsidi.

Semakin banyak kita berhemat pastinya semakin baik. Jangan mentang-mentang bisa bayar trus pake sesukanya, tapi pas mau diberlakukan disinsentif langsung teriak-teriak. Kita juga harus bekerja sama dengan pemerintah agar pemerintah tidak perlu mengeluarkan peraturan yang menyusahkan orang banyak. Permintaan listrik semakin banyak, apalagi dengan program listrik masuk desa. Kita harus belajar berbagi dan berempati. Bukannya egois dalam menggunakan energi listrik.

Seperti yang sudah pernah dikemukakan di posting sebelumnya, negeri kita punya banyak PR. Biarkan pemerintah ngurusi PR mereka masing-masing, ayo kita selesaikan PR kita juga :D

Punya opini lain?? Bagi-bagi dong di bagian komentar ;)

Potret Kecil Bangsa Kita

. Rabu, 30 April 2008
0 komentar

Sore hari ini aku ga sengaja nyasar ke saluran Metro TV. Ternyata lagi ada acara yang cukup menarik, kalo ga salah nama acaranya Snapshot.

Tema yang diambil sore itu adalah tentang pelanggaran masyarakat berupa penerobosan pagar pembatas tengah jalan. Ya.. di kota besar seperti Jakarta sering kita temui jembatan penyeberangan yang melintas di atas jalan yang lebar dan ramai. Di tengah jalan lebar tersebut, sudah dibangun sebuah pagar yang membatasi lajur kiri dan lajur kanan jalan tersebut. Sehingga seharusnya jika pejalan kaki hendak menyeberangi jalan tersebut, mereka harus menggunakan jembatan penyeberangan yang sudah disediakan, demi keamanan mereka sendiri. Kenyataanya, pagar yang sudah disediakan tersebut malah dengan sengaja dirusak, sehingga para pejalan kaki masih sering menerobos dan menyeberang tanpa menggunakan jembatan penyeberangan.

Pelanggaran ini sudah jelas sangatlah membahayakan jiwa pejalan kaki sendiri. Dengan kepadatan arus lalu lintas Jakarta, keberadaan jembatan penyeberangan sudah barang tentu sangat membantu kelancaran lalu lintas karena frekuensi berhentinya kendaraan karena ada pejalan kaki yang menyeberang menjadi lebih sedikit.

Memang sih, bagi pejalan kaki keharusan menggunakan jembatan penyeberangan jalan membuat mereka harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menyeberang jalan karena harus naik turun tangga jembatan penyeberangan tersebut. Namun, apalah artinya hal itu bila ditukar dengan keselamatan jiwa kita sendiri. Sudah barang tentu bila ada kecelakaan disebabkan pejalan kaki tertabrak kendaraan yang melintas jalan tersebut, hal itu akan merugikan kedua belah pihak.

Namun, yang sangat menarik dari acara sore itu adalah tanggapan dari para pejalan kaki yang ditanyai alasan mereka menerobos pagar tersebut. Berikut adalah alasan mereka untuk ngeles :D
Ada sekumpulan (calon) mahasiswi yang bilang:
"biar lebih deket aja"

"gimana ya.. males soalnya..."

"ya.. tadinya sih dah mau lewat jembatan penyeberangan, tapi yang lain pada nerobos, masa mau naik jembatan penyeberangan sendirian" sambil tersipu malu.
Ada juga seorang bapak bersama ketiga anaknya yang masih umur SD dan TK, berkata:
"Waduh.. saya ga ada waktu, keburu-buru soalnya..."
Ada juga ibu-ibu yang berkata gini:
"Saya ini orang kecil, ga tau soal beginian..."
Tambah lagi seorang pemuda yang bilang
"Biar rame aja.."
Asal banget ya jawabnya :D

Semua alasan yang disebutkan di atas itu hanyalah sebagian alasan yang sudah berulang kali disebutkan oleh para penerobos. Intinya.. yang membuat mereka menerobos adalah
  • Malas
  • Ikut-ikutan
  • Ga mau diatur
Begitulah potret kecil bangsa kita. Jangan salahkan mereka yang jadi penguasa kalo bangsa kita seolah kian terpuruk di arus kehidupan dunia.. Perlu kita sadari bahwa pelanggaran yang baru dipaparkan di atas dimungkinkan karena ada pengrusakan terhadap fasilitas umum berupa pagar pembatas. Pengrusakan terhadap fasilitas umum tersebut dilakukan oleh rakyat, yang berarti melukai rakyat lainnya yang mana pajak dari mereka sudah digunakan untuk membangun pagar tersebut.

Tapi apa rakyat yang merusak fasilitas umum tersebut mau dikatai sebagai orang jahat? Sepertinya sih tidak, bahkan mungkin mereka bangga bisa melakukan pengrusakan tersebut, apalagi melihat banyak orang lain yang memanfaatkan "karya" mereka.

Yang perlu kita sadari dari paparan di atas, tanpa sadar mereka yang merusak dan yang menggunakan hasil pengrusakan adalah orang-orang yang mengkorupsi uang rakyat. Ya... karena mereka merusak pagar tersebut untuk keuntungan mereka sendiri, karena alasan malas, ikut-ikutan dan tidak mau diatur. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rakyat kecil pun punya keinginan untuk melanggar aturan dan mengambil hak orang lain. Bedanya dengan para oknum penguasa negeri ini hanyalah masalah kapasitas.

Oknum penguasa negeri dapat mengambil lebih banyak dengan melakukan korupsi, kolusi ataupun nepotisme. Dan rakyat kecil memulai jalan gelap mereka dengan merusak fasilitas umum, melanggar aturan untuk memenuhi tuntutan sifat malas, sikap ikut-ikutan dan tidak mau diatur. Sadarilah, sebesar kita membenci sikap oknum penguasa negeri ini, sebesar itu pulalah kita harus membenci kelemahan kita terhadap sifat-sifat buruk diri kita. Negeri ini masih punya banyak PR untuk dikerjakan. Dan semua elemen di dalamnya punya PRnya sendiri-sendiri. Sudah saatnya kita bangkit dari dalam diri. Kalau kita ga mau merubah diri kita sendiri, apa gunanya meminta orang lain berubah untuk kita. Jangan jadikan perilaku buruk sebagai trend.

Punya opini lain? Bagi-bagi dong di kolom komentar :D

Artis sebagai Trendsetter

. Senin, 21 April 2008
0 komentar

Semalam aku ga sengaja lihat acara musikal di Global TV. Di acara itu ada penyanyi Bunga Citra Lestari, Krisdayanti dan ada Faizal Tahir (siapa sih lo?). Agak heran aja, tu orang yang aku sebutin terakhir kok kayanya uda terkenal banget, tapi aku ampe ga tau. Hal aneh lainnya, Bunga Citra Lestari tampil hanya dengan baju yang modelnya biasa, bukan gaun, bukan baju yang desainnya aneh2, hanya sebuah baju atasan biasa dan rok sedikit di bawah lutut, dengan corak yang agak mirip batik (maaf kalo salah, nontonnya di tv kecil jadi ga bisa lihat detail bajunya). Bukannya ga suka BCL tampil gitu, justru aku suka banget, secara aku ngefans ma lagu-lagu yang Bunga Citra Lestari bawakan, sayang jadi ga enak ngliat dia tampil karena suka pake baju yang agak terbuka.

Setelah melewatkan waktu buat nonton acara itu (sambil menahan diri ngelihat orang-orang yang mukanya asing buatku), aku baru dong kalo acara yang kutonton itu acara Anugrah Planet Muzik (APM) yang diadakan di Malaysia.

Kakakku, yang ikut nonton acara tersebut langsung nyeletuk “Pantes kok bajunya Bunga biasa banget...” seolah menjawab tanya yang dari tadi menggelayut di pikiranku :D

The point is... (baru belajar bahasa inggris ni)... Sebetulnya Bunga Citra Lestari tu uda punya suara yang cukup bagus, muka juga cantik, body juga okelah... Semua itu uda bisa bikin orang terkesima setiap dia tampil di panggung. Jadi, kenapa harus pake baju yang terbuka?? Ya emang sih, kulitnya mulus banget, pantes buat dipamerin hehehe...

Masih menyangkut bahasan masa depan generasi muda ni, bukankah di jaman yang (katanya) dikuasai oleh informasi ini, orang akan cenderung menilai sesuatu berdasarkan informasi yang lebih sering ia terima sebagai sebuah kebenaran. Nah, misal seorang Bunga Citra Lestari yang menjadi public figure (ya karena lagunya emang keren-keren – BungaHolic mode: on) yang mana persepsi cantik, keren, seksi, anggun melekat padanya, menggunakan pakaian yang sedikit terbuka. Maka setiap orang (yang belum memiliki konsep sebelumnya) akan menganggap wanita yang cantik, keren, seksi, anggun ya yang penampilannya kaya Bunga Citra Lestari. Tentu saja, bergesernya persepsi orang tersebut bergantung pada tingkat kenge-fan-annya ma Bunga Citra Lestari. Tapi kurang lebih gambarannya begitu. Seperti tren harajuku yang melanda Indonesia (aku ga terlalu masalah, setahuku pakaiannya ga terbuka sih—maaf kalo salah ya) ikut didongkrak dengan keberadaan Ratu dan J-Rock (dan yang lain yang bergaya harajuku).

Well, disini saya tidak ngomentari apalagi nuduh Bunga Citra Lestari membuat tren mode kita jadi suka berbusana lebih terbuka. Namun, yang penting digaris bawahi adalah, public figure memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir para penggemarnya atau orang-orang yang melihat penampilannya. Kalo mereka menggunakan potensi itu untuk mengajak pada kebaikan, maka Indonesia bisa jadi bangsa yang lebih baik ya.

Maaf kalo sedikit nambahin, setiap dibahas mengenai kategori berpakaian yang sopan, seringkali pihak yang kontra dengan pakaian tertutup mengatakan, dulu juga orang Jawa pada pake kemben, kan malah lebih seksi tuh!” atau di Bali aja dulunya banyak yang dadanya terbuka! ato sanggahan-sanggahan lainnya. Setiap mendengar pernyataan seperti itu, saya selalu heran karena biasanya pernyataan seperti itu juga diembel-embeli isu demokrasi. Lho kenapa mereka ga sekalian bandingin pemerintahan kita ma pemerintahan jaman dulu, balik ke kerajaan lagi ya. Bukankah sebagai orang modern kita memilih untuk hidup berdemokrasi, lalu apa kesensualan kita di masa lalu juga harus diimbangi dengan kesensualan fashion yang modern pada saat ini?? Sudah saatnya kita berpikir ke depan, jangan mikirin repotnya sekarang. Berpakaian tertutup itu malah melindungi perempuan, bukannya membatasi perempuan. Tapi kalo perempuannya ga mau dilindungi ya selamanya juga bakal hanya jadi sekedar wacana. Kita orang modern sudah belajar psikologi kan, harusnya kita tanya sama pakar-pakar psikologi dan estetika tentang berpakaian sopan. Mari kita definisikan berpakaian sopan itu seperti apa. Bukannya terus-terus memprotes dengan mengungkit budaya kita. Ambillah yang baik dari sebuah kebudayaan, dan jadikanlah kebudayaan kita lebih baik dengan perubahan yang positif.

Ada usul, atau opini berbeda? Silahkan isi commentnya :D

NB: dah dua postingan saya yang nyaranin berkonsultasi dengan psikolog. Sumpah de, aku bukan psikolog. Hanya saja, dalam menilai suatu masalah bukankah kita harus bertanya pada ahlinya, kalo soal pola pikir manusia kan mereka yang belajar ilmunya. Begitu saja hehehe..

Heboh Goyangan Dewi Persik

. Rabu, 16 April 2008
0 komentar

Beberapa hari ini, kasus pencekalan Dewi Persik ramai dibicarakan baik di infotaintment maupun media berita lainnya. Berbagai opini publik pun digalang oleh media. Responnya tentu macam-macam, ada yang bilang “biasa saja”, ada yang bilang “terlalu sensual”, ada yang bilang “mbok pemerintah ngurus yang lain aja”.

Tiga ungkapan di atas adalah inti opini yang mewakili beberapa banyaknya opini yang telah dihimpun dan disiarkan di media. Memang, dalam kondisi negeri kita yang rasanya semakin membuat kita “susah bernafas”, isu seperti sensualitas Dewi persik atau keterkaitannya dengan kategori pornoaksi atau pornografi seperti tidak layak untuk diributkan. Namun, hal yang membuatnya layak untuk diperdebatkan adalah wacana “masa depan generasi muda” yang dikaitkan dengan keberadaan goyangan Dewi Persik yang lagi ngetop dengan Goyang Gergajinya.

Masa depan generasi muda. Sebuah wacana yang tak akan pernah selesai dibahas, karena zaman terus berubah, sedang norma-norma dan agama mulai terlihat usang. Tapi, disini saya garis bawahi hal yang sangat penting untuk diingat. Tanpa norma dan agama, kita tidak akan bisa hidup tenang. Karena norma dan agama adalah sesuatu yang dapat kita jadikan acuan ketika kita kehilangan arah di dalam ‘sapuan’ kebudayaan yang terus berevolusi.

Dalam sebuah wawancara dengan Dewi Persik di tayangan Topik Minggu Ini di SCTV (episode 16 April 2008), Dewi Persik menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  • Meminta maaf kepada umaroh, ulama dan semua yang merasa tersakiti oleh tindakan-tindakannya
  • Memaafkan orang-orang yang telah ‘menganiaya’ dan mempersempit rejekinya.
  • Bahwa Dewi Persik hanyalah manusia yang bisa lupa dan khilaf
  • Bahwa Dewi Persik akan tetap menjadi Dewi Persik dan biarlah soal kearifan dan agama cukup menjadi hablum minallah pribadinya serta dunia entertainment berjalan sesuai keinginannya dan kliennya (dalam batas tertentu)

Sekalipun sudah lebih tenang, Dewi Persik tetap kukuh dengan pendiriannya. Dan seolah ingin menegaskan kesekulerisme-annya dalam hal menghibur klien dan penggemarnya. Dewi Persik memberi analogi bahwa apabila kliennya memesan soto, masa ia malah memberi bakso (kalo aku si mau aja, bakso kan lebih mahal hehehe)

Dalam pemberitaan yang mirip dengan kasus Inul beberapa tahun silam, wacana yang mencuat adalah “goyangannya memancing birahi” penontonnya. Kebetulan saya bukan penikmat seni dangdut, saya bukan penggemar Dewi Persik, dan saya tidak menganggap Dewi Persik memiliki sex appeal yang kuat terhadap saya (dikarenakan saya selalu mentertawakan opininya yang membawa-bawa nama Tuhan untuk menjustifikasi tindakannya), ketika melihat cuplikan goyangannya hal yang spontan saya lakukan adalah memindah channel –mending nonton kartun.

Begitu pula pendapat Riri Reza (bener ga ya namanya???) yang mengedepankan bahwa rakyat Indonesia sudah bisa memilah mana yang untuk dewasa mana yang untuk anak kecil. Bapak Adhyaksa (Menpora) mengedepankan bahwa media yang membuat goyangan Dewi Persik seolah semakin sensual (praduga tak bersalah karena beliau hanya melihatnya melalui tayangan layar kaca) sembari menasihati Dewi Persik untuk merubah gayanya.

Saya pribadi belum bisa merasakan bahwa goyangan yang saya lihat dari seorang Dewi Persik itu memancing birahi (karena saya pria normal, namun ga terpancing), namun, ga menutup kemungkinan karena selama saya bergaul dengan teman-teman kuliah saya, respon mereka ketika ada cewek cantik lewat (apalagi kalo bodinya oke n pakaiannya agak gimana gitu) cukup bervariasi. Berikut adalah respon-respon mereka:

  • Terbelalak tanpa berkedip hingga tuh cewek hilang dari pandangannya
  • Menatapnya sambil menerawang dan menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan.
  • Terbelalak, mulut sedikit terbuka dan setelah si cewek ga kelihatan dia memandang ke bawah (ga perlu dijelasin lagi kan..)
  • Langsung berteriak dalam tempo cepat “cwew..cwew..cwew..!!” (anak angkatanku pasti paham ini ulah siapa hehehe... )

Intinya, kita orang kota yang ribut dan cuma lihat tayangannya di layar kaca rasanya kurang pantas untuk berkomentar dengan terburu-buru dan mengedepankan intelektualitas kita dalam memilah tayangan-tayangan yang kita tonton dan menggeneralisasinya untuk seluruh rakyat Indonesia. Dan tidak adil pula untuk mengesampingkan umat beragama padahal Indonesia menempatkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi sila pertama. Rasanya akan lebih baik juga bila hal ini dibahas dengan para pakar psikologi yang dengan dedikasi tinggi sudah mengamati respon manusia terhadap rangsangan visual sejenis goyang gergaji Dewi Persik beserta teman-temannya. Juga kepada pihak kepolisian yang mencatat berapa banyak terjadinya kejahatan seksual di Indonesia. Senior2 yang kebetulan sedang memegang kekuasaan dan merasa peduli dengan masa depan generasi muda pastinya memiliki pengalaman lebih dari kita yang masih muda. Mereka juga adalah saksi hidup dari perkembangan jenis dan kategori visi anak muda jaman sekarang.

Ga selamanya yang muda itu salah, namun ga berarti pengalaman senior kita itu ga ada harganya. Kita dapat mengambil contoh dengan gagalnya penguasa dalam menyikapi Inul dan memunculkan banyak Inil-Inil yang lain kemudian. Sama seperti lolosnya koruptor yang memancing lahirnya koruptor-koruptor baru di Indonesia.