Konversi Minyak Tanah ke Gas, Antara Dilema dan Target

. Jumat, 26 Desember 2008
0 komentar

Dilema konversi minyak tanah ke gas elpiji untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat atas bahan bakar rumah tangga terus bergulir dari waktu ke waktu sejak dijalankannya program konversi minyak tanah ke gas tersebut.

Mengganti kebiasaan menggunakan minyak tanah menjadi gas berefek signifikan pada beberapa masyarakat, ketakutan bila tabung gas meledak masih terus menghantui benak mereka. Hal ini ditunjang dengan kualitas kompor gratis yang dibagikan dapat dikatakan kurang baik, sehingga dari segi 'memenangkan kepercayaan masyarakat', langkah yang ditempuh dirasa kurang tepat.

Iklan layanan di masyarakat juga tidak kalah menyesatkan, karena melakukan perhitungan kebvutuhan 4 tabung gas elpiji 3kg sebulan dengan harga @12.750, sehingga ditotal sebulan hanya dibutuhkan dana sebesar Rp.51000. Padahal dalam kenyataannya, harga gas elpiji 3 kg saja berkisar antara 14-15ribu rupiah. Jadi iklan layanan tersebut terasa begitu menyesatkan.

Saya tidak sedang mengajak menyalahkan siapa-siapa, ada benarnya juga langkah konversi yang ditempuh guna mengurangi beban subsidi untuk minyak tanah. Akan tetapi, sangatlah diperlukan peran serta pengambil kebijakan beserta instansi lain yang terkait untuk berusaha lebih keras lagi guna mensukseskan program konversi minyak tanah ke gas elpiji ini :D

Kekayaan Aburizal Bakrie Turun 90%, Bagaimana Nasib Korban Lapindo?

. Jumat, 12 Desember 2008
0 komentar

Kekayaan Aburizal Bakrie merosot 90%, begitulah berita yang saya baca malam ini. Langsung terbayang di pikiran saya akan nasib dari korban Lapindo yang masih menunggu ganti rugi yang dijanjikan akan mereka dapatkan. Jika ketika kekayaan Bakrie masih sehat saja pembayarannya dilakukan dengan sistem mencicil, bagaimana sekarang ya, dimana keadaan finansialnya sedang dalam 'sakit'.

Kemerosotan ini ditengarai akibat krisis finansial global yang berujung pada penurunan nilai saham PT Bumi Resource hingga ke angkat Rp.930 (sebelumnya Rp.8750). Pihak Bakrie mengatakan bahwa kekayaan keluarganya saat ini berada di bawah 10%.

Semoga saja pemberitaan ini bukanlah sebuah propaganda untuk menunda atau menghilangkan perjanjian ganti rugi dari Bakrie terhadap korban Lapindo. Dan kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air, mari kita turut berdoa (karena doa adalah usaha minimal kita) agar masalah yang dihadapi oleh perusahaan keluarga Bakrie bisa segera teratasi. Walau bagaimanapun, dalam perusahaan tersebut juga terdapat saudara sebangsa kita yang mengais pendapatan dengan bekerja di sana.

Mari kita menjadi bagian dari solusi untuk bangsa kita, bukan menjadi bagian dari masalah :)


Korban Lumpur Lapindo dan Bakrie

. Selasa, 02 Desember 2008
0 komentar

Permasalahan korban lumpur lapindo terasa semakin berkepanjangan saja. Persetujuan demi persetujuan sudah dibuat, tapi kenapa 2 tahun ini penggantian terkesan tersendat-sendat, sekalipun alasan krisis di perusahaan induk Grup Bakrie menjadi alasan. Hal ini mencuatkan banyak opini di masyarakat, apalagi dengan diumumkannya kekayaan Bakrie yang cukup fantastis beberapa waktu lalu.

Kita semua tahu, bahwa bencana lumpur lapindo tentu tidak lepas dari ketentuan dan takdir Tuhan. Akan tetapi, bila pihak Bakrie / Lapindo sudah menyetujui penggantian kepada sejumlah korban, janganlah lagi ditunda-tunda. Para korban lumpur lapindo menunggu uang yang dijanji-janjikan, jangan sampai mereka menjadi anarkis karena merasa kecewa. Mereka bergantung pada Keputusan Presiden 14/2007 yang memberi sedikit harapan.

Berdasarkan negosiasi ulang Selasa kemarin (2/12/08), pihak Lapindo kini menyetujui pencicilan pembayaran ganti rugi sebanyak Rp. 20 juta perbulan, ditambah 5 juta perbulan untuk biaya rumah. Semoga janji ini bisa mereka tepati, agar para korban juga segera bisa membuktikan bahwa dirinya masih tetap mau berusaha bertahan hidup dengan etos kerja yang tinggi membangun kembali hidup mereka di Indonesia :)

Masih Jaman Anarkis

. Rabu, 16 Juli 2008
0 komentar

Hari ini saya melihat liputan unjuk rasa terhadap PLN di Banjarmasin, mereka melempari kantor PLN dan melumuri beberapa fasilitas umum dengan cairan hitam (yang saya tidak tahu itu apa). Memang, sejak PLN menerapkan kebijakan pemadaman listrik secara bergilir, pro dan kontra mulai bermunculan di berbagai tempat. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi krisis energi yang melanda dunia ketimbang menyalahkan pemerintah dan PLN secara terus menerus sembari melakukan tindakan anarkis.

Dunia ini sudah berubah, kebutuhan kita terhadap energi juga sudah berubah. Dulu energi berfungsi lebih sebagai pendukung kehidupan, namun sekarang energi mempunyai fungsi hiburan yang membuat permintaan masyarakat akan energi melonjak. Sebut saja televisi, dahulu televisi lebih banyak menayangkan berita dan informasi bermanfaat, namun sekarang televisi seringkali hanya menayangkan sinetron tidak bermutu atau infotainment yang ga bermanfaat, tapi toh kita tetap menontonnya dan membuang energi kita untuk hal tidak penting seperti itu. Bisnis hiburan malam yang kian menjamur juga turut serta dalam menyedot persediaan energi di negeri ini. Peningkatan mobilitas masyarakat, yang mana sekarang sudah tidak jarang lagi ditemui anak muda yang berpergian dengan mengendarai mobil. Bayangkan dengan dulu, dimana yang bisa mengendarai mobil hanya orang tertentu saja, dan bisa dibilang masih sangat jarang anak muda yang berpergian dengan mobil.

Bercermin dengan fakta-fakta di atas saja, sudah dapat kita simpulkan bila krisis energi yang kita hadapi sekarang ini adalah efek dari gaya hidup kita yang sudah terbiasa menggunakan energi secara murah, sehingga begitu candu subsidi atas energi tersebut dikurangi (karena semakin banyak yang disubsidi) kita seolah sakaw dan tidak berdaya menghadapinya. Kita harus realistis, mahasiswa juga harus realistis. Kita kuliah supaya kita menjadi pintar dan menciptakan solusi, bukan hanya mencari keburukan pemerintah dan menyuruh mereka bekerja dengan pandangan cerdas kita yang berada di luar sistem. Kalau memang elemen mahasiswa berpendapat pemerintah tidak becus, kenapa tidak turun langsung membantu masyarakat? Apa mahasiswa tidak mau melakukannya karena tidak digaji untuk itu? Kalau begitu lupakan saja semboyan memperjuangkan rakyat. perjuangan itu jauh lebih dari apa yang mereka lakukan saat ini. Sebaiknya kita bercermin pada diri sendiri, melihat sekeliling kita dan membenamkan tangan kita guna membantu kesusahan yang dialami masyarakat. Indonesia pasti bisa maju jika pihak penguasa dan mahasiswa sama-sama tidak hanya berbicara, tapi bekerja dan berusaha.

Berhentilah anarkis dan mulailah membangun Indonesia, itu juga kalau kalian benar-benar mencintai negeri yang diperjuangkan pejuang-pejuang pendahulu kita.

Citra Buruk Kader Golkar

. Minggu, 29 Juni 2008
0 komentar

Menjelang Pemilu dan Pilpres 2009. Banyak tokoh dan partai politik sedang sibuk mengurusi citra / image mereka di mata masyarakat. Tidak terkecuali partai Golkar, partai yang berlambangakan pohon beringin ini mulai mengkhawatirkan citra buruk yang mungkin akan mengurangi pendapatan suara untuk partai Golkar di Pemilu 2009 nanti.

Citra buruk Golkar ini kemungkinan disebabkan oleh korupsi beberapa kader Golkar yang mencuat ke media. Badan penelitian dan pengembangan internal Golkar mensinyalir bahwa hal ini akan menurunkan perolehan suara di Pemilu 2009 nanti.

Hal lain yang membuat citra Golkar melemah adalah masalah ideologi yang tidak jelas. Sebetulnya hal itu dapat diatasi jika mereka tetap fokus pada filosofi dasar dari lambang partai mereka. Bukankah lambang tersebut sudah mengandung filosofi yang bagus, tinggal menerapkannya yang butuh penyesuaian dan komitmen dalam membangun bangsa.

Sebagai rakyat biasa, saya sangat berharap bahwa partai yang memenangkan Pemilu 2009 nanti bisa memajukan bangsa Indonesia.

Idola Cilik RCTI - Kompetisi Popularitas di Usia Dini

. Jumat, 23 Mei 2008
0 komentar

Seolah terinspirasi dari kesuksesan AFI dan AFI Junior dulu, stasiun TV RCTI juga membuat kontes Idola Cilik. Format acara tersebut masih seputar kontes menyanyi yang ditujukan untuk membentuk pesertanya menjadi entertainer sejati. Prinsip penilaiannya juga berdasarkan polling sms untuk masing-masing peserta Idola Cilik tersebut.

Pada awalnya, saya pun terkesan dengan upaya stasiun TV Oke tersebut dalam memberikan wadah bagi anak kecil untuk mengembangkan kreativitas dan talenta mereka di bidang tarik suara. Para juri pun seperti sudah diberi pembekalan tentang psikologi anak terlebih dahulu sehingga dalam berkomentar tidak terlalu "sadis".

Namun, dengan berjalannya acara Idola Cilik ini, dan melihat peserta-peserta yang bertahan, terus terang saya agak kecewa. Karena ada beberapa peserta yang tidak memiliki kualitas yang baik tapi dapat tetap bertahan. Kenapa begitu? Saya kira karena alasan "kasihan".

Bukan rahasia lagi, setiap ada kontes reality show seperti ini, seringkali media ikut-ikutan mengupas tentang cerita hidup para peserta kontes tersebut. Ya... memang diantara peserta itu ada yang kurang beruntung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Terus terang, sebagai sesama manusia, saya bersimpati terhadap mereka. Tapi simpati itu tidak mengganggu akal sehat saya untuk dapat menilai siapa yang layak untuk bertahan.

Di luar sana, rakyat berteriak-teriak minta keadilan. Rakyat menuduh pemerintah pilih kasih, tidak profesional dan tebang pilih. Lalu bagaimana dengan rakyat?? Apa mereka tidak tebang pilih? Kalo begitu mengapa dalam kontes Idola Cilik, seringkali saya melihat kekecewaan para juri ketika melihat pesertanya harus keluar. Saya bisa melihat bahwa kekecewaan itu lebih dari sekedar rasa sayang yang terbangun selama acara tersebut berjalan. Saya yakin bahwa diluar itu semua, ada kekecewaan bahwa yang keluar terlebih dahulu adalah peserta yang seharusnya belum keluar.

Weits... jangan salah paham dulu. Saya tidak bermaksud untuk memusuhi orang yang kurang mampu di dalam kontes Idola Cilik. Tapi saya hanya melihat performa dari para pesertanya. Dan saya mengesampingkan masalah kostum, karena kostum itu masalah mode. Saya hanya memperhatikan masalah kualitas suara mereka. Dan ekspresi mereka.

Yang amat saya sayangkan adalah, bahwa karena mereka masih sangat kecil. Seingat saya, orang tua kita yang baik biasanya akan selalu mengajarkan, bahwa usaha dan kemauan keras dalam belajar merupakan kunci utama untuk bisa sukses. Nah, bila di implementasikan pada Idola Cilik, saya tidak dapat membayangkan trauma yang mereka alami. Ketika anak-anak berbakat itu harus menerima kekalahan bukan karena mereka tidak memiliki pencapaian performa yang baik, tapi karena mereka kalah populer. Dan lagi, popularitas ini dibentuk oleh media yang mem-blow-up sisi kesengsaraan dari peserta yang kurang mampu tersebut. Jika hal itu membekas di pikiran mereka, pasti mereka akan berpikir bahwa usaha mereka dikalahkan oleh faktor belas kasihan. Bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya dengan usaha dan semangat kerja keras.

Mungkin anda makin beranggapan bahwa saya memusuhi orang yang kurang mampu. Tapi akan saya kemukakan alasan terbesar saya tidak menyukai hal semacam ini. Di dalam kontes Idola Cilik, penyelenggara akan mendapat banyak keuntungan apabila banyak yang nge-vote dengan mengirim sms ke nomor premium mereka. Jadi, bila strategi belas kasihan mereka berhasil, maka makin banyak keuntungan yang mereka raup. Bukankah Indonesia itu orangnya emosional, mudah disentuh dengan hal-hal sensitif seperti ini. Yang diperlukan adalah packaging yang tepat. Jadi, alasan terbesar saya membenci hal ini adalah karena banyak orang menghabiskan uang mereka hanya untuk mempertahankan segelintir orang yang tidak mampu. Di luar sana masih banyak yang bisa kita bantu. Harga Rp. 2000 per sms itu bisa untuk memberi makan satu orang sebanyak satu kali. Berapa orang kurang mampu yang bisa kita beri "belas kasih" dibanding nge-vote orang yang kurang mampu bernyanyi di kontes Idola Cilik? Pastinya lebih bermanfaat kan?

Oya, perlu saya tegaskan sekali lagi, saya tidak memusuhi peserta yang kurang mampu dan kurang mampu bernyanyi itu. Saya menikmati siapapun yang dapat bernyanyi dengan baik, apapun latar belakangnya.
Ayo bantu orang sekitar kita, jangan cuma bisa protes kenaikan harga BBM dengan mengatas namakan rakyat kecil.

Harga BBM Terbaru - 24 Mei 2008

.
0 komentar

Malam ini pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) di Indonesia untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia.

Sesuai dengan PP no 55 th 2005 yang sudah diubah dengan PP no 9 th 2006, maka Pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak per 24 Mei 2008 pkl 0.00.

Berikut rincian harga terbaru untuk varian Bahan Bakar Minyak.
  • Minyak Tanah Rp. 2500,-
  • Premium Rp. 6000,-
  • Solar Rp. 5500,-

Kenaikan ini menunjukkan bahwa harga premium naik melebihi 30% dari harga awalnya pada Rp. 4550,-. Ya.. memang sih naiknya tidak seperti pada waktu terakhir naik yang bener-bener memberi financial shock buat saya.
Semoga keputusan pemerintah menaikkan harga BBM ini tidak membuat rakyat kehilangan keadilan dari diri mereka. Saya hanya berharap tidak ada tindakan anarkis dalam menyambut kenaikan harga BBM ini. Semakin anarkis, semakin banyak yang dirusak, semakin rugi bangsa kita. Ayo kita benahi bangsa kita... Artis-artis juga bantu dong menciptakan trend hidup hemat ;) Dan jangan lupa untuk menggalakkan program kaset gratis :D